Gerakan Dunia Maya, Gugatan Terhadap Realitas

Author: himasos  |  Category: Articles

GERAKAN DUNIA MAYA, GUGATAN TERHADAP REALITAS

Perubahan baru tengah terjadi. Detak perubahan ini sedikit unik, ia tidak dipelopori oleh politisi, para tokoh besar, maupun gemuruh mahasiswa turun ke jalan. Perubahan datang melalui jutaan klik di layar-layar komputer yang saling terkoneksi. Sungguh menyenangkan apabila rakyat Indonesia dapat hidup dalam sebuah mimpi dimana pemerintahnya bersih dan masalah- masalah dapat teratasi: kemiskinan terentaskan, pengangguran mendapat pekerjaan, pemasaran perekonomian berjalan baik, upah layak bagi buruh, dll. Namun kenyataannya, situasi yang terjadi adalah sebaliknya. Masyarakat pun berapi- api melakukan protes kepada pemerintah, memberikan peringatan kepada pemerintah untuk harus segera memperbaiki kinerjanya. Dimulai sejak era 60-an, banyak terjadi aksi jalanan yang menentang kebijakan, dan itulah yang mendasari lahirnya gerakan sosial. Juga kesadaran bahwa kecilnya pengaruh satu suara dalam pemilu, membuat beberapa orang menggabungkan diri dengan orang lain menjadi suatu kelompok.

Secara definisi gerakan sosial memiliki penjelasan konspetual yang beragam. Menurut Keith Faulks (200:139) gerakan sosial baru dapat didefinisikan sebagai kelompok individu yang berfikiran sama yang bergabung dalam berbagai bentuk organisasi dalam usaha menjalankan atau mencegah perubahan sosial. Selain memberikan tantangan ideologi yang baru terhadap negara, Gerakan sosial baru juga mengadopsi bentuk – bentuk organisasi dan taktik baru untuk memajukkan diri dan menyatakan aspirasinya kepada penguasa. Para aktivis gerakan sosial baru menunjukkan dukungannya untuk kearah perubahan yang lebih baik tanpa membayar uang pendaftaran maupun dibayar untuk menjadi suatu pengikut Gerakan Sosial Baru, melainkan dengan aksi – aksi sporadis seperti, mengorganisir petisi, menarik perhatian media, berdemonstrasi untuk mendukung maupun menentang perubahan kebijakan pemerintah. Tujuan gerakan sosial baru adalah untuk menata kembali relasi negara, masyarakat dan perekonomian, dan untuk menciptakan ruang publik di dalamnya wacana demokratis ihwal otonomi dan kebebasan individual dan kolektivitas serta identitas dan orientasi mereka, bisa didiskusikan dan diperiksa.

Dewasa ini perkembangan ICT (information and communication technology), yang semakin canggih dan kompleks. Masyarakat telah menemukan ruang baru, hidup dalam masyarakat jejaring (the network society). Akses internet sudah menjadi kebutuhan hidup segala lapisan masyarakat. Jumlah blogger, faceboker, dan twitter terus meningkat, mereka pergi berpantasi kedunia maya dengan berbagai macam motif dan keperluan; bisnis, mobilisasi massa, menebarkan ideologi politik, chatting, browsing literature, menelusuri lowongan kerja, mencari teman kencan dan lain sebagainya. Kehadiran teknologi internet berdampak pada pergeseran strategi gerakan sosial. Sebelumnya kerja kampanye dan advokasi mengandalkan pengorganisasian masyarakat dan media massa arus utama, kini mereka memanfaatkan internet sebagai dukungan kerja kampanye dan avokasi. Sebagai gerakan sosial, gerakan dunia maya telah mampu meraih simpati kolektif dari masyarakat. Pengumpulan koin untuk Prita Mulyasari, aksi-aksi turun kejalan untuk pembebasan Bibit-Candra. Merupakan akselerasi gerakan dari dunia maya ke dunia riil, hasilnyapun sangat positif kedua permasalahan tersebut tuntas dengan keadilan yang diciptakan oleh masyarakat sipil. Kecenderungan ini memberikan sebuah pola baru dalam proses konsolidasi demokrasi di Indonesia.

Dunia internet, khususnya situs jejaring sosial, memang memungkinkan penggunanya bebas atau berhak mengungkapkan apa yang dia pikir dan dia rasa. Jenis penggunanya pun sangat beragam, mulai dari kalangan siswa, mahasiswa, ekonomi, politik, bahkan pembantu rumah tangga. Pendapat dan keluh kesah mereka bisa diakses oleh jutaan orang pengguna lainnya dalam waktu singkat. Namun, Keberhasilan gerakan berbasis jejaring sosial hanya sebatas menghimpun jumlah KLIK, tapi gagal melahirkan gerakan perlawanan, baik struktural maupun kultural. Seperti contoh, protes yang dilakukan Bona Paputungan lewat lagunya “Andaiku Gayus” memang tidak melahirkan suatu gerakan yang berarti, namun cukup membuat ruang gerak para koruptor sedikit berkurang. Tekanan sosial yang dilakukan masyarakat melalui media inilah yang mampu membuat segala tindak tanduk dalam pemerintahan semakin dapat terkontrol.

Sisi positif yang muncul, bahwa dunia maya menjadi salah satu instrument lahirnya ruang publik yang paling demokratis dewasa ini. Protes-protes, kritikan dan berbagai gerakan politik dan kepentingan muncul diruang dunia maya, sebagai sebuah konstruksi dari dunia riil. Bangunan baru ruang publik melalui media digital telah menjadi fenomena yang cukup menarik dalam perkembangan demokrasi dewasa ini. Gerakan sosial baru (new social movement) melalui instrumennya yang tercipta di ruang virtual memiliki kekuatan ideologis tertentu, sebagai wujud eksistensi dari kaum oposisi dan juga masyarakat sipil (civil society) dalam melihat realitas politik, sosial, ekonomi dan juga budaya.

Dan inilah yang dikatakan oleh Mafred B. Steger (2005 : 20), bahwa ideologi bukanlah konstruksi imajiner yang tidak punya landasan dalam fenomena material. Dari persfektif sosiologis (Damsar, 2009:157), kehidupan masyarakat maya antara lain dapat diidentifikasikan dari segi relasi-relasi sosial atau lebih spesifik dapat dilihat jejaring-jejaring (networks) yang terendap dalam kehidupan masyarakat dunia maya. Jejaring-jejaring tersebut menciptakan stimulus, respon dan tindakan-tindakan kolektif yang dibingkai oleh norma, nilai-nilai dan sangsi sosial. Pentinganya media atau ruang virtual dalam penyaluran aspirasi politik merupakan sebuah protes atau kritik sosial akibat tersumbatnya dan tidak berfungsinya fungsi-fungsi politik, yang seharusnya diperankan oleh lembaga-lembaga politik, dari parpol sampai pada lembaga eksekutif, legeslatif dan juga yudikatif. Mandulnya kemampuan lembaga-lembaga tersebut dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan Negara. Merupakan landasan dasar dari munculnya gerakan keadilan dan gerakan moral di ruang virtual.

Seiring dengan matinya realitas yang ideal, terbunuhnya rasa keadilan pengingkaran hak-hak masyarakat sipil oleh Negara dan lain sebagainya. Bermunculan gerakan-gerakan sosial di dunia maya, sebuah kemajuan baru dalam sejarah pergerakan. Ada banyak pesan moral yang disampaikan oleh aksi-aksi masa dalam ruang vitual, substansi dari gerakan ini yaitu gugatan terhadap realitas. Ada sebuah kekecewaan besar dari masyarakat sipil terhadap berbagai permasalahan ketidakadilan dewasa ini. Mulai menyempitnya ruang publik yang efektif sehingga dengan kemajuan teknologi informasi, masyarakat menggeser ruang publik kedalam dunia maya atau ruang publik virtual.

Gugatan terhadap realitas yang diwujudkan dalam gerakan dunia maya, saat ini telah menjadi sebuah tren dan akan menjadi tradisi untuk mencari format baru sebuah keadilan. Sebuah awal yang baik untuk perkembangan demokrasi, tetapi tentunya hambatan-hambatan dari kelompok yang merasa dirugikan oleh kebebasan ruang publik virtual akan terus menghadang gerakan dunia maya tersebut. Sehingga dalam prinsip gerakan harus ada afiliasi antara gerakan dunia maya dengan gerakan dalam dunia riil. Terwujudnya sinkronisasi antara dua ruang tersebut akan menghasilkan sebuah gerakan yang masive dan disinilah titik kritis dari akhir perjuangan dalam gerakan dunia maya.

Fenomena media baru dan keterlibatan politik rakyat lewat perkembangan teknologi dapat dirunut dari pemikiran Everett Rogers (1986) tentang  “electronic politics”. Model politik ini membuat warga lebih leluasa untuk mengomentari pemerintahan. Sekaligus mampu memfasilitasi komunikasi antar warga untuk berbagi pendapat tentang suatu permasalahan politik. Bahkan tidak hanya warga, para aktor politik pun dapat menggunakan media baru untuk menyuarakan opininya. Sederhananya, semua bebas dan terbuka untuk berkomentar di wilayah media baru. Inilah era baru berpolitik!

Himasos FISIP UNS

Author: himasos  |  Category: About Us

HIMASOS merupakan singkatan dari Himpunan Mahasiswa Sosiologi. HIMASOS lahir pada tanggal 28 Mei 1998 yang merupakan kegiatan mahasiswa Sosiologi yang bertujuan untuk menampung aspirasi maupun informasi untuk mahasiswa Sosiologi itu sendiri. Sama halnya dengan himpunan yang lain, HIMASOS juga diwajibkan untuk mampu menjadi fasilitas bagi pengembangan wawasan akademik yang menitikberatkan pada kegiatan mahasiswa.

Struktur Himasos teridiri dari :

-Ketua Umum

-Sekretaris umum dan wakil sekertaris umum

-Bendahara umum dan wakil bendahara umum

Bidang-bidang: -Bidang I Penelitian

-Bidang II Diskusi & penalaran

-Bidang III Penerbitan, Pers & jurnalistik

-Bidang IV Humas & minat bakat

Halal Bi Halal Sosiologi FISIP UNS

Author: himasos  |  Category: Activity

Kamis, 15 september 2011 sosiologi FISIP UNS mengadakan halal bi halal yang bertempat di Galeri Resto, Laweyan, Solo. Acara yang dimulai dari jam 19.00-21.30 ini diselenggarakan oleh angkatan 2011 dan mengundang dari angkatan 2007-2011. Acara ini juga ada sharing tentang sosiolgi dengan pembicara dari angkatan 2007 yaitu Panggio dan Maulana. Halal bi halal ini juga disempurnakan dengan musik akustik yang ditampilkan oleh internal sosiologi. Dengan adanya acara ini, diharapkan dapat mempersatukan antar angkatan.

Kepengurusan Himasos

Author: himasos  |  Category: Uncategorized

empty