Sociology Travelling

Author: himasos  |  Category: Activity

Minggu, 23 Oktober 2011 bidang I Himpunan Mahasiswa Sosiologi FISIP UNS melakukan program kerja kunjungan sekaligus penelitian di kota Semarang. Acara tersebut diberi nama Sociology Travelling. Penelitian ini juga melibatkan atau bekerja sama dengan Himpunan Mahasiswa Sosiologi & Antropologi Universitas Negeri Semarang sebagai pemandu sekaligus tour guide di kota Semarang.

Pada awal kedatangan Himasos di UNNES langsung di sambut oleh ketua Himpunan Mahasiswa Sosiologi & Antroplogi UNNES yang kemudian dilanjutkan dengan perkenalan organisasi satu sama lain. Setelah makan siang, kemudian dibagi tiga kelompok untuk memulai penelitian. Masing-masing kelompok berada di Kota Lama, Kampung Pecinan, dan Gereja Tua yang berada masih disekitaran Kota Lama. Penelitian ini hanya sebatas ARC (Apreciation, Reflection, Creation) yang kemudian dijadikan sebuah buku sebagai output dari penelitian ini.

Kira-kira 3 jam berada di lokasi penelitian, Himasos FISIP UNS & Himasos UNNES berkumpul di tugu muda untuk mendiskusikan hasil penelitian. Masing-masing mendiskusikan hasil penelitian. Untuk kelompok di Pecinan, mereka melihat disana seperti ada eksklusifitas masyarakat keturunan cina yang tidak berbaur dengan masyarakat pribumi. Dari Kota Lama, terlihat bangunan bekas kolonialisme yang tak terawat & saluran air yang membendung. Yang terakhir dari gereja tua yang masih berdiri kokoh di tengah-tengah Kota Lama.

Gado-Gado Perspektif "Perilaku Konsumsi Mahasiswa"

Author: himasos  |  Category: Activity

Rabu, 19 oktober bidang II Himpunan Mahasiswa Sosiologi FISIP UNS melakukan program kerja diskusi yang mengambil tema Perilaku Konsumsi Mahasiswa dengan judul Life for Shopping or Shopping for life. Diskusi ini diisi oleh empat pembicara yang kesemuanya adalah mahasiswa diantaranya Wahid Kurniawan (mahasiswa sosiologi), Greget Kalla Buana (mahasiswa ekonomi), Faza Umar Afif (mahasiswa komunikasi), Dwi Atmaja (mahasiswa public relation) dan dipimpin oleh moderator dari Himasos FISIP UNS yaitu Gunawan Wibisono.

Dari keempat pembicara tersebut, masing-masing mempunyai perspektif yang berbeda-beda. Dari Wahid Kurniawan sebagai mahasiswa sosiologi, beliau menjelaskan perilaku konsumsi itu secara sosiologis mulai dari jeratan kapitalisme yang semakin merajalela, teori konsumsi, hingga fakta-fakta posmodernisme yang berada di FISIP UNS yang ada kaitannya dengan perilaku konsumsi. Kemudian pembicara kedua, Greget Kalla Buana menjelaskan dari perspektif ekonomi bahwa perilaku konsumtif itu tidak selamanya negative. Dimana skala rasionalitas terhadap kebutuhan sangat di kedepankan, jika mampu untuk membeli sesuatu, maka tidak ada salahnya untuk membeli sesuatu tersebut. Pembicara ketiga, Faza Umar Afif menjelaskan mengenai media sebagai jembatan perilaku konsumsi yang di suguhkan melalui iklam-iklan di media massa. Beliau menerangkan intinya harus dewasa dalam menghadapi media. Pembicara terkahir, Dwi Atmaja menjelaskan seolah-olah sebagai pengamat perilaku konsumsi. Beliau menjelaskan bahwa perilaku konsumsi adalah penyembah berhala, antara ranah gengsi dan aksi, dan membeli mimpi atau harapan.

Setelah keempat pembicara memaparkan tentang penjelasannya, dibuka sesi tanya jawab dan diskusi kepada para peserta. Kemudian diskusi ditutup dengan moderator memberikan kesimpulan yang intinya semoga kita semua bisa lebih obyektif dalam berkonsumsi.

Masih Eksiskah Sangiran Dipikiran Kita?

Author: himasos  |  Category: Articles

oleh : Rhestya (2009)

Sebelum melangkah lebih jauh untuk membaca tulisan gak ceto ini lebih jauh. Ada baiknya kita tanyakan dalam hati kita masing – masing.

Apa sih sangiran itu?

Jawabannya pasti bermacam – macam… ada yang bilang tahu tapi belum pernah kesana. Tahu tapi cuma tahu namanya aja, alias tidak tahu sangiran itu tempat seperti apa. Tahu, “itu kan museum terkenal waktu [pelajaran sejarah? Memangnya disini ada ya?”. Atau bahkan lebih parahnya sama sekali tidak tahu….. =.=”
Bagi kalian – kalian yang pengen tahu…. nih….aku bagi cerita buat kalian. :)

Negeri kita Indonesia adalah negeri yang kaya baik keindahan alam maupun budaya yang tidak ada duanya di dunia. Indonesia memiliki enam lokasi kawasan perlindungan yang tercatat dalam daftar situs warisan dunia (Cultural Heritage). Pernyataan ini bukan sekedar retorika belaka, namun kenyataan obyektif telah memperlihatkan bahwa wilayah dengan luas daratan belasan ribu kilo meter persegi dipenuhi oleh peninggalan budaya masa lampau. Semua masa yang terbagi dalam pembabakan sejarah pra-sejarah, klasik, Islam, kolonial, revolusi ada bukti tinggalannya. Bahkan tiga warisan dunia terdapat di sini yaitu: Candi Borobudur (1991), Kompleks candi Prambanan (1991) dan situs Prasejarah Sangiran (1996). Selanjutnya yang tercatat dalam daftar Situs Warisan Alam Dunia adalah Taman Nasional Ujung Kulon, Komodo, dan Lorentz. Berdasar World Heritage Convention, UNESCO mengelola daftar lokasi warisan dunia sejak tahun 1972. Sedangkan Indonesia telah meratifikasi konvensi pewarisan budaya dunia sudah dimulai sejak tahun 1989. Dimana penunjukan suatu lokasi sebagai situs warisan alam/budaya berdasarkan nilai – nilai keindahan alam yang unik/khas atau kepentingan ekologis dan nilai – nilai budaya yang menonjol. Sedang untuk bantuan pendanaan dan dukungan teknis pengelolaan disediakan oleh World Heritage Fund untuk menjaga keutuhan lokasi warisan dunia yang telah diakui.

Situs Sangiran adalah salah satu situs World Heritage paleontologis yang paling tertua di Indonesia dan cukup terkemuka di dunia. Keberadaan situs ini secara resmi telah diakui oleh UNESCO sebagai salah satu situs warisan budaya dunia sejak bulan Desember 1996 (Widianto 2000). Untuk wilayah geografisnya terletak di sebelah utara kota Solo dan berjarak sekitar 15 Km. Situs Sangiran yang mempunyai luas sekitar 59,2 Km² (SK Mendikbud 070/1997) ini secara administratip termasuk ke dalam dua wilayah pemerintahan; yaitu Kabupaten Sragen (Kecamatan Kalijambe, Kecamatan Gemolong dan Kecamatan Plupuh) dan Kabupaten Karanganyar (Kecamatan Gondangrejo), Provinsi Jawa Tengah (Widianto & Simanjuntak 1995) tepatnya terletak di desa Krikilan,Kecamatan Kalijambe ( + 40 km dari Sragen).
Secara geo-stratigrafis keistimewaan Sangiran, terletak pada garis alam zaman dahulu dimana pada masa purba daerah itu hanya merupakan hamparan lautan. Akibat dari proses geologi dan akibat bencana alam letusan Gunung Lawu, Gunung Merapi, dan Gunung Merbabu, Sangiran akhirnya berevolusi menjadi sebuah daratan seperti sekarang ini. Hal tersebut dibuktikan dengan lapisan-lapisan tanah pembentuk wilayah Sangiran yang sangat berbeda dengan lapisan tanah di tempat lain. Tiap-tiap lapisan tanah tersebut ditemukan fosil-fosil menurut jenis dan jamannya. Misalnya, Fosil Binatang Laut banyak diketemukan di Lapisan tanah paling bawah, yang dulu merupakan lautan. Kondisi deformasi geologis seperti ini kemudian semakin diperjelas oleh aliran Kali Brangkal, Cemoro dan Pohjajar (anak-anak cabang Bengawan Solo) yang mengikis situs ini mulai di bagian utara, tengah dan selatan. Akibat dari kikisan aliran sungai tersebut maka menyebabkan lapisan-lapisan tanah tersingkap secara alamiah dan memperlihatkan berbagai jejak fosil (manusia purba dan hewan vertebrata) (Widianto & Simanjuntak 1995).

Nama Sangiran sendiri diambil dari nama wilayah tempat ditemukannya pertama kali fosil Homo Erectus atau manusia purba tegak berdiri yang berasal sekitar satu juta tahun yang lalu. Untuk menampung semua benda purbakala, dibangunlah Museum Purbakala Sangiran. Kondisi sangiran awalnya tidak sebesar seperti sekarang. Museum sangiran saat ini juga telah melengkapi peralatan dan sarana prasarana, misal dengan di bangunnya mess, gedung seminar dan gedung perpustakaan yang saat ini terbilang masih seadanya. Koleksinya pun telah mencapai sekitar 13.980 koleksi fosil. Beberapa penduduk sekitar juga telah mulai memanfaatkan beberapa potensi yang dapat mereka ambil menjadi hasil pendapatan mereka sehari – hari, misal saja sebagai pedagang aksesoris batu dan pencari fosil.
Namun, permasalahan saat ini adalah semakin menipisnya jumlah fosil yang tersimpan disana, semakin membuktikan kurangnya partisipasi maupun perhatian khusus masyarakat sekitar mengenai pelestarian situs sangiran. Juga kasus pencurian dan jual beli fosl yang semakin sering terjadi dikalangan masyaraat Sangiran dengan wisatawan asing . Dalam penelitian Bambang Sulistyanto, Sebagian besar penduduk penemu fosil lebih suka menjual kepada para tengkulak daripada menyerahkannya ke pemerintah (Museum Sangiran). Penduduk yang dimaksud di sini adalah petani atau buruh tani setempat yang telah terpengaruh oleh hasutan para tengkulak dan pemburu fosil, sehingga mereka ikut mencari fosil. Adapun alasan pencari fosil ini lebih suka menyerahkan temuannya kepada tengkulak, karena tengkulak dalam memberikan imbalan jasa, lebih tinggi daripada pihak pemerintah. Di samping itu, pemberian imbalan jasa dari pemerintah memakan waktu lama sekali, bahkan ada yang sampai dua tahun, sebelum sampai di tangan penemuJika hal tersebut terus menerus terjadi maka situs Sangiran akan semakin benar – benar hancur. Padahal dalam kondisi seperti ini perhatian dari instansi terkait itu sangat penting, entah dari pemerintah maupun masyarakat sekitar agar Sangiran dapat dijadikan sebagai obyek wisata edukasi, laboratorium dan pusat penelitian, pusat pembelanjaan souvenir,dll. Seharusnya dalam pelestarian dan pengembangan kebudayaan pariwisata itu sendiri memiliki tujuan untuk menumbuhkan pemahaman dan perkembangan masyarakat terhadap kebudayaan dan pariwisata, meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dan menumbuhkan sikap kritis terhadap fakta sejarah dan serta memperkokoh ketahanan bangsa . Dengan pernyataan tersebut berarti dalam pembentukan kebijakan-kebijakan yang dibuat, keterkaitan pemerintah dengan masyarakat tidak dapat dilepaskan begitu saja. Pemerintah juga harus melihat situasi dan kondisi dari wilayahnya, agar dapat merubah taraf hidup masyarakat setempat.

Namun dalam faktanya, seringkali terdengar kritik, bahwa masyarakat di sekitar situs arkeologi cenderung hanya sebagai objek dalam pengelolaan warisan budaya. Mereka jarang dilibatkan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengambilan keputusan (Sulistyanto, 2009:78). Secara konkrit, pemikiran tersebut dapat dijelaskan, bahwa masyarakat di sekitar situs tidak dapat diabaikan dalam segala kegiatan yang menyangkut keberadaan dan keberlangsungan warisan budaya disekitarnya. Masyarakat pada hakekatnya merupakan pemilik sah atas warisan budaya. Sementara itu, mereka sebenarnya memiliki kearifan atau potensi sosial, budaya, politik, maupun ekonomi yang dapat dikembangkan untuk pelestarian warisan budaya. Potensi tersebut jika dikelola dengan benar bukan tidak mungkin akan mampu menumbuhkan ketergantungan yang saling menguntungkan (simbiosis mutualistis) antara situs dan masyarakat di sekitarnya. Ketergantungan tersebut diharapkan mampu menunjukkan korelasi positif atau hubungan timbal balik yang saling menguntungkan di antara kedua belah pihak, yaitu pihak pemerintah selaku pengelola yang bertanggung jawab terhadap pelestarian situs dan pihak masyarakat lokal, selaku pemilik warisan budaya.
Pihak pertama, masyarakat akan diuntungkan dengan adanya pemanfaatan situs yang mengarah pada kepentingan ekonomis, sebagai objek pariwisata misalnya. Keterlibatan mereka dalam aktivitas kepariwisataan secara langsung, akan dapat mendatangkan pendapatan tambahan atau pendapatan utama yang mampu meningkatkan perekonomian mereka. Pihak kedua, pemerintah selaku pengelola yang memiliki tanggung jawab keberadaan warisan budaya, menjadi lebih ringan bebannya dengan tumbuhnya pemberdayaan yang mengarah pada peningkatan rasa kepemilikan masyarakat terhadap warisan budaya di sekitarnya. Dampak positif tumbuhnya rasa memiliki terhadap warisan budaya seperti itu, adalah munculnya kesadaran untuk “melindungi” dan “menjaga” kelestarian situs. Apabila masyarakat sudah dapat bertindak sebagai “pelindung” dan “penjaga” situs yang muncul dari kesadaran sendiri, maka hal tersebut merupakan bentuk upaya perlindungan dan pelestarian yang paling efektif dan efisien (Prasodjo 2004:3).
Untuk menciptakan hubungan yang saling menguntungkan, maka perlu dilakukan upaya ke arah terbentuknya kondisi yang kondusif untuk kedua belah pihak. Menciptakan situasi yang saling menguntungkan untuk kedua belah pihak tersebut, tidaklah mudah karena arkeologi tidak dapat bekerja sendiri. Apalagi menjalin kemitraan dengan masyarakat yang berada di sekitar situs yang rawan konflik. Arkeologi membutuhkan dukungan dari stakeholders, paling tidak dukungan dari pemerintah daerah setempat. Untuk memperoleh dukungan tersebut, langkah awal yang diperlukan adalah kesadaran di kalangan arkeologi sendiri, bahwa masyarakat di sekitar situs memiliki peran yang sangat penting untuk pelestarian benda cagar budaya. Masyarakat di sekitar situs tidak dapat diabaikan dari segala kegiatan pengelolaan warisan budaya, mulai dari penyusunan program, pelaksanaan, dan bahkan evaluasi. Apalagi dengan minimnya pengetahuan masyarakat khususnya daerah Solo Raya tentang adanya Museum Sangiran sebagai World Heritage. Padahal dalam kondisi seperti ini perhatian dari instansi terkait itu sangat penting, entah dari pemerintah maupun masyarakat sekitar agar Sangiran dapat dijadikan sebagai obyek wisata Jateng, laboratorium dan pusat penelitian, pusat pembelanjaan souvenir.
Masyarakat merupakan salah satu pilar utama dalam pengembangan pariwisata, karena pada dasarnya pilar pariwisata itu terdiri dari pertama pemerintah, kedua swasta dan ketiga masyarakat, yang sering disebut tiga pilar utama pariwisata. Misalnya, setelah pemerintah mengeluarkan kebijakan mengenai pengembangan pariwisata yang diiringi dengan regulasinya tentunya. Kemudian pihak swasta yang secara professional menyediakan jasa pelayanan bagi pengembangan pariwisata tersebut, maka tugas masyarakat adalah selain senantiasa membangkitkan kesadaran tentang pentingnya pariwisata juga menumbuh-kembangkan kreatifitas yang melahirkan berbagai kreasi segar yang mengundang perhatian untuk kemudian menjadi daya pikat pariwisata. Sehingga peran masyarakat dan juga kita sebagai mahasiswa sangat penting dalam menguatkan potensi Situs Sangiran sebagai World Heritage.

Nah sekarang kalian sudah tahu kan apa itu sebenarnya Sangiran dan berbagai permasalahan yang ada. Hmm… sayang ya kalau memang situs ini sekarang hanya sebagai pajangan dengan sandang World Heritage tanpa ada kunjungan. Apalagi semakin menipisnya fosil – fosilnya ini karena terlalu lama Sangiran disingkirkan dari pikiran – pikiran masyarakat Indonesia. Keep Spirit!!!!….. Gogogo Sangiran!!!!!

Peningkatan Kualitas Pendidikan Sejak Dini Dalam Membentuk Kualitas Buruh Indonesia

Author: himasos  |  Category: Articles

oleh : Rhestya (2009)

Perkembangan teknologi, modernisasi, dan sistem mekanisme kerja semakin lama semakin bergerak cepat. Berbagai perubahan – perubahan mulai muncul karena adanya teknologi baru yang lahir setiap harinya. Perkembangan yang semakin cepat ini menuntut manusia untuk bergerak lebih cepat namun tepat. Hal tersebut terjadi untuk masa yang sekarang ini, yang menjadi pertanyaan sekarang adalah bagaimana perkembangan teknologi untuk 20 sampai 30 tahun yang akan datang? Yang pasti kehidupan manusia akan mengalami perubahan yang amat sangat besar. Namun, suatu hal yang menjadi keprihatinan saat ini adalah dimana kemajuan teknologi yang akan terus menerus semakin canggih di masa yang akan datang tidak diiringi oleh kemajuan budaya kerja orang Indonesia yang masih kurang menghargai efisiensi dan disiplin kerja. Disekarang ini, di era globalisasi yang sebenarnya sudah jauh berkembang pesat mengenai teknologi justru menjadi hambatan bagi masyarakat Indonesia dalam mencari pekerjaan. Sehingga masih banyaknya pengangguran dan masyarakat miskin di Indonesia karena kalahnya mereka dalam bersaing dengan apa yang dinamakan dengan teknologi. Sebenarnya dari segi konsepsi, pemerintah telah berupaya untuk meningkatkan ketenagakerjaan Indonesia agar mampu bersaing dengan negara – negara lainnya. Keberhasilan ini sebenarnya tergantung dari diri kita masing – masing. Entah dari pemerintah maupun masyarakat itu sendiri.
Beberapa kendala dalam pengembangan buruh di Indonesia saat ini. Pertama, biaya pendidikan yang dirasa masih sangat tinggi untuk tingkatan yang lebih tinggi misalnya kejenjang perkuliahan. Untuk saat ini, di Indonesia menjadi maslah yang wajar menurut orang – orang yang tidak sekolah. Namun, untuk beberapa tahun kedepan, hal ini akan menjadi masalah yang cukup besar. Saat ini kedudukan sebagai pegawai maupun kantoran minimal S1. Besok menjadi sesuatu yang mungkin jika yang diterima adalah lulusan sarjana untuk menjadi buruh pabrik sekalipun. Kedua, harapan mandiri belum sepenuhnya berkembang. Hal ini terpengaruh dari budaya yang terlalu menggantungkan pada sesuatu, misalnya saja tergantung pada sistem negara atau pemerintahan yang ada. Ketiga, ketergantungan buruh terhadap pekerjaannya saat ini. Keempat, faktor budaya yang kurang menyadari dan menghargai efesiensi waktu dan disiplin kerja. Hal ini juga sebenarnya pengaruh dari budaya yang melekat dengan istilah “alon – alon waton kelakon” padahal di era yang akan datang kita dituntut untuk bergerak cepat. Yang berjalan lambat dialah yang kalah.
Strategi Pembinaan
Strategi pembinaan dapat dilakukan sejak dini, setahap demi setahap dalam sistem pengajaran di lembaga pendidikan. Pengenalan dunia kerja dengan sistem teknologi yang modern. Pendidikan untuk menghargai efesiensi waktu dan disiplin kerja sangat kuat. Tidak hanya siswa saja yang harus menghargai waktu, pengajar maupun petinggi sekolah diwajibkan juga untuk menghargai efesiensi waktu dan disiplinitas yang sangat tinggi. Pembagian kelas berdasarkan tingkat keahlian masing – masing siswa. Hal ini pernah diterapkan dalam sistem pengajaran di Jerman. Dimana murid yang memiliki keahlian studi maupun akademisi akan diarahkan dikelas khusus yaitu Gymnasium. Untuk kemudian mereka akan diarahkan sebagai pemikir, pengkritisi, pengamat juga peneliti. Sedangkan siswa yang tidak begitu pintar dibidang studi maka akan dipilah lagi dan kemudian dimasukkan dalam keahlian masing – masing. Disana mereka mendapatkan studi yang sesuai dengan kemampuan mereka untuk terus diasah dan kemudian penentuan apakah mereka telah siap atau tidak untuk masuk kedunia kerja. Sistem ini juga di pakai oleh negara Jepang. Mereka lebih mengoptimalkan anggaran dana negara kearah studi seperti ini. Dengan keuntungan bahwa setiap warganya bisa mengasah potensi yang ada sejak dini. Sehingga sejak dini juga pengarahan studi itu dilakukan oleh negara sesuai kemampuan siswa bukan keinginan siswa. Karena kenyamanan dan peningkatan dunia kerja akan terasa jika seseorang itu merasa mampu dan mudah melakukan hal tersebut.
Kemajuan teknologi tidak akan bisa berhenti. Selama waktu terus berjalan maka teknologi pun akan semakin meningkat. teknologi dan manusia untuk saat ini seperti rekan kerja yang harus saling menompang. Jika manusia merasa tertinggal dalam mengahadapi pesatnya perkembangan teknologi maka manusia itu pun akan kalah. Kalah dalam menghadapi persaingan kerja di era globalisasi. Hal ini yang sedang dialami bangsa Indonesia dalam menghadapi kemajuan teknologi dalam dunia industri. Banyaknya masyarakat yang tidak mampu mengikuti perkembangan sehingga mereka dengan mudahnya dieksploitasi oleh pihak swasta dalam mengembangkan usahanya dengan gaji yang sangat rendah. Karena masyarakat sudah merasa tidak mampu maka mereka pun tidak bisa berbuat apa – apa. hingga akhirnya negara kita dipandang sebagai negara yang memiliki tenaga kerja ataupun buruh yang sangat murah.
Akulturasi Budaya Kerja
Pengaruh budaya akan begitu terasa dalam manajemen pada umumnya, sistem kerja, dan hubungan kerja pada khususnya. Pengaruh budaya kerja di Indonesia terlihat dari berbagai macam bentuk sistem dunia kerja, misalnya saja penetapan tentang hari jumat sebagai bekerja terpendek setiap harinya, merupakan hasil akulturasi dengan budaya islam. Berikut perbedaan budaya kerja setiap negara: Dalam budaya orang jawa, pimpinan itu dianggap sebagai raja sehingga orang jawa itu sangat loyal terhadap atasannya sekalipun atasannya bukan idola yang memberi gaji kecil. Sedangkan dalam budaya barat lebih menekankan adanya efesiensi, disiplin, dan penghormatan inisiatif individu. Untuk buruh di negara barat, mereka memiliki keberanian untuk menentang atasan kalau memang dirasa sistem pengaturan dalam dunia kerja mereka tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan. Dalam budaya asia timur, mereka memang tidak banyak yang berpengaruh dalam hal sistem gaji maupun penghormatan. Yang paling mereka tekankan adalah dimana peningkatan sofkill diri mereka untuk menghadapi dunia kerja. Sehingga etos kerja dan semangat kerja mereka sangat tinggi dengan pemikiran – pemikiran yang kreatif. Sehingga jika beberapa budaya tersebut mulai dikulturasikan dalam pendidikan dini di sistem pengajaran Indonesia, maka tidak hal yang mustahil dalam menciptakan tenaga kerja yang ideal. Tidak salah juga jika negara mulai memperhitungkan pengaruh budaya dan etos kerja di Indonesia yang dapat menjadi daya dorong bagi terciptanya hubungan – hubungan ketenagakerjaan yang mendukung produktivitas kerja.
Era Modernisasi
Pengembangan teknologi menjadi pilihan banyak negara menuju era globalisasi. Kemampuan dan daya saing negara dalam pengembangan teknologi tergantung pada peranan dan kebijakan pemerintah untuk meraih keunggulan yang komparatif. Menurut Dr.Alo Liliweri (1997:371) bahwa modernisasi itu muncul karena kemampuan manusia untuk memanfaatkan teknologi. Dan munculnya teknologi tidak akan mungkin jika tidak diikuti dengan perubahan sosial. dimana perubahan sosial itu sangat bergantung pada motivasi manusia dalam kemajuan teknik atau technical changes.
Sehingga modernisasi ini merupakan sesuatu perubahan yang sangat kompleks atas suatu masyarakat dari tradisional ke modern dengan diikuti pesatnya perkembangan teknologi yang semakin mempermudah pekerjaan manusia saat ini. Menurut Parsons Rostow, Modernisasi adalah proses perubahan karekteristik kebudayaan, struktural, ekologi, suatu masyarakat secara berencana. Dibidang tenagakerjaan atau buruh, perubahan atas perilaku kerja para buruh yang disebabkan oleh penggantian tenaga kerja dengan mesin pabrik. Perubahan sistem ketenagakerjaan ini berimbas pada masyarakat kecil yang tidak bisa beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang semakin cepat. Sehingga mau tidak mau masyarakat dituntut untuk bisa menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut. Jika kita mulai masuk pada situasi ini maka akan terlihat seperti sebuah permainan yang keras. Siapa yang bisa meningkatkan skill mereka terhadap perubahan itu maka dialah yang menang. Dan yang kalah akan mati. Karena seluruh konsep kinerja kedepan akan mengutamakan teknologi canggih dalam setiap produksi, tidak lagi menggunakan sistem manual sebagai alat produksinya.
Kesimpulan
Dengan segala kemajuan teknologi yang semakin cepat, masyrakat dituntut untuk terus bergerak cepat bagi kemajuan bangsa. Buruh – buruh yang berpengalaman dan berpotensilah yang besok akan dibutuhkan. Bukan sekedar tahu atau bisa bekerja tapi dituntut untuk mengerti dan membuat hasil yang tanpa cacat. Sehingga konsep apakah yang menjadi idola didalam manajemen dan hubungan ketenagakerjaan untuk kurun waktu yang akan datang, seharusnya sudah dipikirkan sejak dini dengan matang – matang oleh pemerintah saat ini. Bukan bagaimana caranya memberdayakan buruh Indonesia saat ini melainkan bagaimana menyiapkan calon buruh Indonesia untuk menghadapi persaingan global di tahun – tahun yang akan datang. Ada beberapa konsepsi baru yang muncul hingga saat ini, antara lain: mulai tumbuhnya konglomerat disegala bidang, hubungan ketenagakerjaan gaya barat yang sudah mulai masuk akibat hubungan internasional, efesiensi kerja yang mendorong penggunaan teknologi baru, sistem manager gaya asia timur (Cina dan Jepang) lebih merasuk kesektor jasa dan industri, dukungan pendidikan dan keterampilan yang dituntut, semakin ketatnya persaingan didunia kerja baik secara lokal, nasional, maupun internasional.
Oleh karena itu konsepsi – konsepsi hubungan ketenagakerjaan yang berlandaskan pada hubungan yang kita anut saat ini tidak lah cukup untuk menghadapi derasnya arus teknologi masa depan. Kemajuan kaum buruh pun ditentukan oleh kebijakan pemerintahannya. Kerjasama antara pemerintah dengan kaum buruh pun sangat dibutuhkan untuk menjalani segala kebijakan yang ada. Peningkatan kualitas pendidikan sejak dini sangat diprioritaskan. Keprofesionalismean para buruh pengajar harus lebih ditingkatkan. Untuk memunculkan bibit yang berbobot maka penanamnya harus memiliki kesadaran yang tinggi untuk kesejahteraan mereka bukan untuk kesejahteraan diri sendiri. Hubungan ketenagakerjaan yang mengarah kepada modernisasi peningkatan sistem jaringan yang luas, terwujud dalam kelembagaan yang berperan aktif dari perencanaan yang matang hingga pengawasan, dan bermuara pada peningkatan produktivitas dan kesejahteraan buruh sangat diperlukan Indonesia untuk menghadapi krisis persaingan global masa depan.

Reference:
Barthos,Basir.1999.Manajemen Sumber Daya Manusia. Bumi Aksara: Jakarta
Liliwewri,Alo.1997.Sosiologi Organisasi.PT Citra Adiya Bakti:Bandung
Toha, Hlili Dkk.1991.Hubungan Kerja Antara Majikan Dan Buruh. Rineka Cipta:Jakarta

Kunjungan ke komunitas PINTU (Pintar Institute)

Author: himasos  |  Category: Activity

Rabu, 5 oktober 2011 bidang IV Himpunan Mahasiswa Sosiologi menjalani program kerja Jangan atau Kunjungan Jaringan. Program ini bertujuan untuk membangun jaringan dengan organisasi, kelompok, ikatan alumni atau birokrasi pada umumnya. Pada kesempatan kali ini, Himasos diperkenankan untuk mengunjungi komunitas PINTU (Pintar Institute) yang bertempat di Jl Bhayangkara Gg Pasopati No.27 BL Tipes, Serengan Kota Surakarta.

Acara ini dibuka oleh Faza Umar Afif selaku ketua PINTU kemudian dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Quran oleh salah satu anggota dari PINTU. Setelah pembacaan ayat suci Al-Qur’an, ketua Pembina PINTU bapak Indrawan Yepe mempresentasikan tentang berdirinya PINTU, kegiatan-kegiatan PINTU, sampai prestasi-prestasi yang telah diraih oleh komunitas PINTU ini. Usai mempresentasikan tentang PINTU, Bapak Indrawan Yepe membuka diskusi atau sesi tanya jawab kepada Himasos. Ganda Setya Gunawan selaku ketua Himasos membuka diskusi dengan menanyakan tentang bagaimana untuk menjaga kesolidan dalam suatu organisasi. Dengan singkat, padat dan jelas ketua Pembina PINTU ini menjelaskan bahwa kesolidan sebuah organisasi itu hanya dengan dijalankan, dijalankan dan dijanlankan kemudian resonansi. Adapun Abdurrohman salah satu anggota Himasos memberi masukan bahwa silaturahmi ini tidak hanya pada kunjungan kali ini saja, melainkan ada suatu koalisi atau kerjasama antara PINTU dengan Himasos. Setelah sesi diskusi, Himasos dihibur dengan penampilan dari salah satu nasyid komunitas PINTU.

Selain PINTU, didalam komunitas ini juga ada komunitas yang disebut wasis (Wanita Sholeha Inspiratif & Sosialis). Salah satu kegiatan komunitas wasis adalah melakukan pemberdayaan kepada wanita-wanita pekerja seks komersial yang ada Surakarta. Secara keseluruhan, komunitas PINTU ini telah banyak melakukan pemberdayaan dan manfaat kepada masyarakat bahkan mengharumkan nama Bangsa. Di akhir acara, pihak komunitas PINTU menyuguhkan hidangan makan bersama sebagai penutup acara.