Belajar Mandiri, Pergerakan untuk pembelajaran metode dan teori

Author: himasos  |  Category: Activity

LIPUTAN BIDANG 3

28 JULI 2012, @RUANG UCYD, 13.30-16.00

“diskusi sarana untuk belajar mandiri, sebuah pergerakan untuk pembelajaran metode dan teori”

pembicara: Drajat Rahmat Kartono

Pak Drajat, mahasiswa sosiologi UNS mana yang tidak tahu akan prestasinya? Namanya tersohor hingga ke Universitas Muhamadiyah Malang dan tidak asing lagi untuk Universitas Indonesia. Beliau sosok dosen yang menyenangkan dan sangat memotivasi mahasiswa-mahasiswanya saat mengajar. Mahasiswa yang awalnya menyesal masuk sosiologi malah menjadi mahasiswa yang berprestasi di Sosiologi, begitulah kiprah dosen unik ini. kali ini saya berkesempatan untuk meliput diskusi di ruang ucyd mengenai pengalaman study beliau dari S1, S2 hingga S3 nya. Ada banyak hal yang saya dapatkan dan benar sekali, sangat memotivasi untuk sukses di Sosiologi.

Siang itu Pak Drajat mengawali diskusi dengan bercerita bagaimana yang ia bisa masuk jurusan Sosiologi. Saat SMA beliau seorang siswa eksak atau ilmu pasti yang dekat dengan beberapa temannya. Teman-temannya paling buruk menjadi mahasiswa kedokteran gigi, sedangakan ia sendiri malah diterima di jurusan sosiologi Unair ketika itu. Akhirnya timbulah motivasi yang terlahir dalam hatinya “saya akan menjadi orang hebat di jurusan yang mereka anggap buruk“. Ia sendiri belum bisa menikmati sosiologi di semester-semester awal, ia mengaku bisa menikmati sosiologi baru di semester empat. Karena backgroundnya dari ilmu eksak, ia selalu mencari konkretnya dari sosiologi, misalnya saat belajar tentang krumunan, ia langsung mendatangi krumunan dan belajar menganalisis, itu krumunan jenis mana? Jadi Pak Drajat selalu berusaha menyentuh sosiologi dengan tangannya dan itu yang sekarang di ajarkan ke mahasiswanya. Seperti itulah cara belajarnya di semester awal.

Uniknya, Pak Drajat sudah memulai penelitiannya di semester dua dengan mengawali turun langsung penelitian di perkampungan kumuh yang ditempati pemulung, yang dimana di tempat itu sedang dilakukan pembangunan sutet. Ia mengawali dengan membuat proposal, merumuskan masalah dan turun langsung ke lapangan, tinggal bersama pemulung di kawasan itu selama satu minggu. Sepulangnya dari penelitian kecil-kecilannya ia jadikan tulisan sebanyak lima lembar dan dimasukan ke dalam Koran namun gagal diterbitkan. Ia tidak menyerah, liburan semester tiga ia meneliti tentang pengamen gambang dengan cara mengikutinya mengamen hingga ke rumahnya, dia teliti bagaimana cara mewariskan kepada anaknya, latar belakangnya, nilai-nilai yang dipahami, dan lain sebagainya hingga akhirnya dijadikan tulisan yang akhirnya diterbitkan di Koran jawa pos, ini kali pertamanya tulisannya masuk di koran.

Penelitian di awal-awal semester itu dilakukan hanya untuk menaklukan kemampuan dirinya, apakah bisa ia masuk ke kehidupan komunitas yang asing untuk dirinya sendiri. ia belum mengerti apa metodologinya, kualitatif atau kuantitatif, dan ia sendiri yang menganggap itu penelitian. Akhirnya di semester empat ia lebih serius untuk penelitan, ia datang ke TU dan mengambil laporan penelitian dosen, ia mulai mengikuti aturan penelitian yang benar. Liburan semester empat ia merancang penelitian yang lebih baik dengan mengacu pada penelitian dosen. Ia buat proposal yang saat itu sedang ada konflik antara pribumi dan orang-orang cina hingga menyambar ke kota-kota lain di Indonesia. Tidak lama kemudian ada pengeboman Borobudur oleh orang arab, tapi pribumi bersikap biasa saja, tidak marah padahal Borobudur kan warisan leluhur kenapa di bom orang arab mereka bersikap biasa saja sedangkan di Solo, ada pembakaran toko-toko orang cina oleh pribumi. akhirnya ia meneliti ini, yang kebetulan dosennya sedang meneliti hubungan antar etnis juga saat itu. Masuk semester lima ia bertemu dengan dosen tersebut dan pak Drajat meminta beliau untuk membaca laporan penelitiannya dan ikut kuliahnya di jurusan antropologi. Dan inilah yang ia bawa untuk skripsinya. Semester lima penelitiannya bertujuan untuk mengukur apakah penelitiannya dapat dipahami oleh orang lain. Saat skripsi, ia meneliti langsung di tempat pengeboman Borobudur tersebut. Disaat ujian, ada satu dosen yang tidak menyukai skripsinya karena penggabungan kualitatif dan kuantitatif. Di tengah-tengah menggarap skripsi di semester tujuh, Pak Drajat mengalami kelelhan rohani, saat ia tidur tapi ia merasa masih berfikir hingga akhirnya ia tinggalkan skripsimya dan mengikuti LKTI tentang kemiskinan nelayan yang akhirnya menjadi juara harapan. Dan penelitiannya inilah yang akhirnya mengantarkan beliau meraih gelar S1.

Pak Drajat akhirnya merasa bercita-cita ingin menjadi seorang peneliti dan ia mengaku sudah sejak dahulu ingin menjadi seorang guru. Semua gajinya di berikan kepada isterinya dan ia kuliah S2 serta hidup di Jakarta dari kegiatannya ikut penelitian. Pak drajat juga kerap kali menjadi asdos (asisten dosen) sejak S1, itu menjadi hal yang teramat penting karena dari menjadi asdos ia bisa belajar banyak dari kehidupan langsung sang dosen bukan dari yang ia ucapkan. Pak Drajat juga mengajarkan sosiologi plus, selain kita harus menguasai sosiologi, kita juga harus menguasai ilmu-ilmu lainnya seperti bahasa Inggris, Ekonomi, Politik dan lain sebagainya karena saat di dunia nyata sosiologi tidak dapat berdiri sendiri, di balik orang ekonomi yang memimpim perusahaan ia membutuhkan orang-orang sosiologi, orang sosiologi bisa masuk ke dalam ilmu ekonomi tapi orang ekonomi belum tentu dapat berkomunikasi dengan sosiologi. Selain itu Pak Drajat juga menekankan pentingnya berorganisasi yang dimana dari organisasi kita akan membuat banyak jaringan, dan jaringan inilah yang akan bekerja saat kita lulus kuliah nantinya.

Pak Drajat juga mengajarkan betapa pentingnya kita ikut terlibat langsung dalam penelitian, karena kita bisa terjun langsung ke lapangan dan dituntut profesionalitas, kerja keras dan manajemen waktu. Kita sebagai mahasiswa harus mulai membuat road map sendiri, beliau mengaku sudah membuat road map nya hingga tahun 2030. Pentingnya kita menentukan tujuan mau kemana kita kelak dan Pak Drajat fokus mengenai krisis dan perkotaan. Ia berharap suatu hari nanti akan menemukan teori krisis yang dapat dibaca oleh semua orang. Banyak sekaliyang Pak Drajat berikan untuk kita sebagai peserta diskusi. Ia menekankan pentingnya kita membuat eksemplar atau tulisan kita yang dibukukan. Kita memang harus memiliki perpustakaan dari karya-karya orang lain, tapi kita juga harus mempunyai buk karya kita sendiri. ia juga bercerita tentang S2 dan S3 nya yang mengagumkan dan patut sekali untuk diteladani. Semua peserta diskusi menyimak dengan seksama dan berdecak kagum, Tanya jawab hidup sekali dalam forum diskusi tersebut, dalam closing statementnya ia mengatakan “mulai, tidak ada pilihan lain selain dimulai”. Pesan terakhir dari kami bisang tiga, ayo ikutan diskusi-diskusi yang diadakan baik itu di kampus, di mall, di toko buku atau dimanapun tempatnya kita bisa menimba ilmu karena belajar yang sebenarnya adalah disaat kita berdiskusi dan berinteraksi dengan orang lain diluar kelas. Ayo hidupkan budaya membaca, menulis dan berdiskusi di kampus fisip kita J.(tria)