Workshop Menulis di Wikipedia bersama Wikimania

Author: himasos  |  Category: Activity

Selasa, 3 april 2012 Lab Sosiologi FISIP UNS mengadakan acara workshop menulis di Wikipedia bersama Benny Lin dan Fanny Chotimah. Acara ini diselenggarakan di Lab Komputer FISIP UNS dan dihadiri mahasiswa-mahasiswi FISIP UNS.

Bedah Buku "Budaya Bebas" bersama KUNCI Cultural Studies Center

Author: himasos  |  Category: Activity

Jumat, 16 maret 2012 Lab Sosiologi FISIP UNS bekerja sama dengan Himasos FISIP UNS dan Himakom FISIp UNS bersama KUNCI Cultural Studies Center Yogyakarta mengadakan bedah buku “Budaya Bebas: Bagaimana Media Besar Memakai Teknologi dan Hukum untuk Membatasi Budaya dan Mengontrol Kreativitas” karya Lawrence Lessig. Acara ini diselenggarakan di Public Space FISIP UNS bersama Antariksa (KUNCI) dan Prahatiwi Utari (FISIP UNS) dan Benny Lin (Wikimania).

Bedah Skripsi "Komunikasi Politik Pada Elit Lokal: Sebuah Kajian Sosiologis" oleh Mustika Dewi

Author: himasos  |  Category: Activity

Rabu, 29 Februari 2012 Lab Sosiologi FISIP UNS mengadakan diskusi bedah skripsi yang berjudul “Komunikasi Politik Pada Elit Lokal: Sebuah Kajian Sosiologis” karya Mustika Dewi. Diskusi ini dihadiri oleh beberapa teman-teman dari angkatan 2008, 2010 dan 2011. Dalam diskusi ini teman-teman yang hadir membahas tentang metodologi, teori ataupun hal lain yang berkaitan dengan pembuatan skripsi.

Dialektika 07 Tahun 2011

Author: himasos  |  Category: Online Journal

Perlunya Re-Orientasi Sosiologi Di Indonesia oleh Wenti Arum Sari

Narasi Sejarah Intelektual Mulut Indonesia oleh Maulana Kurnia Putra

Agama Dan Kehidupan Manusia oleh Mustika Dewi

Fungsi Sosial Film (?) oleh A. Nimas Kesuma N

Virus Korupsi Ala Pendidikan oleh Eufrasia Kartika H

Dialektika 08 Tahun 2011

Author: himasos  |  Category: Online Journal

Komunitas Toelis : Ekspresi Anak Muda Kota oleh Addin Kurnia Putri

Korupsi + Budaya = Indonesia oleh Reisthya Nida D.W

Politisasi Gapura oleh Aryo Prakosa

Alih Fungsi Lahan Pertanian Ke Non Pertanian oleh Muh. Taufiq Yuhry

Eksklusivitas Golongan Dan Konflik Sosial oleh Ganda Setya Gunawan

FIKSI (Film & Diskusi)

Author: himasos  |  Category: Activity

Kamis, 17 November 2011 Himasos Fisip Uns mengadakan program kerja dari bidang diskusi dan penalaran yang bernama FIKSI (Film & Diskusi). Acara ini dilaksanakan di Public Space FISIP UNS pada pukul 14.00-16.00. Dengan mengundang M. Zulfi Ifani sebagai pembicara yang beliau adalah finalis Eagle Awards Metro TV 2011. Film yang berjudul Adeus, Timor Lorosae! ini menggambarkan situasi kehidupan para eks pengungsi Timor-Timur di Kupang yang mencoba survive dengan caranya sendiri atau mandiri tanpa menunggu uluran tangan pemerintah Indonesia. Film berdurasi 20 menit ini mencoba mengeksistensikan kemampuan para pengungsi eks Timor-Timur dalam mengelola alamnya, bukan dipandang secara melaratnya kehidupan mereka. Acara ini dihadiri oleh anak-anak FISIP UNS dan disela acara pembicara memberikan sedikit motivasi dalam pembuatan film dokumenter yang baik. Acara ini diharapkan mampu mensensitifitaskan nalar berpikir mahasiswa dan mendiskusikannya dengan segala fakta sosial yang ada.

Makrab Sosiologi angkatan 2011

Author: himasos  |  Category: Activity

Sabtu-minggu 29-30 Oktober 2011 teman-teman sosiologi angkatan 2010 mengadakan acara makrab untuk teman-teman sosiologi 2011. Acara ini dimaksudkan untuk mengakrabkan antar angkatan agar menjadi suatu keluarga dalam menuju masa depan, keluarga sosiologi. Hotel BIP Tawangmangu menjadi lokasi diadakannya acara ini. Belva Henri Lukmana selaku ketua pelaksana membuat acara makrab terdiri dari acara perkenalan antar panita & peserta, diskusi bersama Subuha (angkatan 2008) mengenai budaya literasi, Wida (angkatan 2008) yang memberikan motivasi di sosiologi. Acara makrab ini juga turut mengundang dari angkatan 2008 dan 2009. Di akhir malam hari diadakan acara pentas seni yang telah dibuat perkelompok untuk menampilkan seni yang telah ditentukan. Pada keesokan harinya, diadakan outbond yang dilakukan disekitar sekipan, tawangmangu. Dari naik gunung, main di air terjun, games, sampai flying fox semua ada disini. Di akhir acara, saudara Abdurohman selaku ketua outbond bercerita tentang alam dan kesan-kesan di acara makrab ini. Setelah outbond, para peserta kembali ke hotel untuk persiapan pulang. Sekitar pukul 13.00 seluruh peserta dan panitia check out dan kembali ke Solo.

Sociology Travelling

Author: himasos  |  Category: Activity

Minggu, 23 Oktober 2011 bidang I Himpunan Mahasiswa Sosiologi FISIP UNS melakukan program kerja kunjungan sekaligus penelitian di kota Semarang. Acara tersebut diberi nama Sociology Travelling. Penelitian ini juga melibatkan atau bekerja sama dengan Himpunan Mahasiswa Sosiologi & Antropologi Universitas Negeri Semarang sebagai pemandu sekaligus tour guide di kota Semarang.

Pada awal kedatangan Himasos di UNNES langsung di sambut oleh ketua Himpunan Mahasiswa Sosiologi & Antroplogi UNNES yang kemudian dilanjutkan dengan perkenalan organisasi satu sama lain. Setelah makan siang, kemudian dibagi tiga kelompok untuk memulai penelitian. Masing-masing kelompok berada di Kota Lama, Kampung Pecinan, dan Gereja Tua yang berada masih disekitaran Kota Lama. Penelitian ini hanya sebatas ARC (Apreciation, Reflection, Creation) yang kemudian dijadikan sebuah buku sebagai output dari penelitian ini.

Kira-kira 3 jam berada di lokasi penelitian, Himasos FISIP UNS & Himasos UNNES berkumpul di tugu muda untuk mendiskusikan hasil penelitian. Masing-masing mendiskusikan hasil penelitian. Untuk kelompok di Pecinan, mereka melihat disana seperti ada eksklusifitas masyarakat keturunan cina yang tidak berbaur dengan masyarakat pribumi. Dari Kota Lama, terlihat bangunan bekas kolonialisme yang tak terawat & saluran air yang membendung. Yang terakhir dari gereja tua yang masih berdiri kokoh di tengah-tengah Kota Lama.

Gado-Gado Perspektif "Perilaku Konsumsi Mahasiswa"

Author: himasos  |  Category: Activity

Rabu, 19 oktober bidang II Himpunan Mahasiswa Sosiologi FISIP UNS melakukan program kerja diskusi yang mengambil tema Perilaku Konsumsi Mahasiswa dengan judul Life for Shopping or Shopping for life. Diskusi ini diisi oleh empat pembicara yang kesemuanya adalah mahasiswa diantaranya Wahid Kurniawan (mahasiswa sosiologi), Greget Kalla Buana (mahasiswa ekonomi), Faza Umar Afif (mahasiswa komunikasi), Dwi Atmaja (mahasiswa public relation) dan dipimpin oleh moderator dari Himasos FISIP UNS yaitu Gunawan Wibisono.

Dari keempat pembicara tersebut, masing-masing mempunyai perspektif yang berbeda-beda. Dari Wahid Kurniawan sebagai mahasiswa sosiologi, beliau menjelaskan perilaku konsumsi itu secara sosiologis mulai dari jeratan kapitalisme yang semakin merajalela, teori konsumsi, hingga fakta-fakta posmodernisme yang berada di FISIP UNS yang ada kaitannya dengan perilaku konsumsi. Kemudian pembicara kedua, Greget Kalla Buana menjelaskan dari perspektif ekonomi bahwa perilaku konsumtif itu tidak selamanya negative. Dimana skala rasionalitas terhadap kebutuhan sangat di kedepankan, jika mampu untuk membeli sesuatu, maka tidak ada salahnya untuk membeli sesuatu tersebut. Pembicara ketiga, Faza Umar Afif menjelaskan mengenai media sebagai jembatan perilaku konsumsi yang di suguhkan melalui iklam-iklan di media massa. Beliau menerangkan intinya harus dewasa dalam menghadapi media. Pembicara terkahir, Dwi Atmaja menjelaskan seolah-olah sebagai pengamat perilaku konsumsi. Beliau menjelaskan bahwa perilaku konsumsi adalah penyembah berhala, antara ranah gengsi dan aksi, dan membeli mimpi atau harapan.

Setelah keempat pembicara memaparkan tentang penjelasannya, dibuka sesi tanya jawab dan diskusi kepada para peserta. Kemudian diskusi ditutup dengan moderator memberikan kesimpulan yang intinya semoga kita semua bisa lebih obyektif dalam berkonsumsi.

Masih Eksiskah Sangiran Dipikiran Kita?

Author: himasos  |  Category: Articles

oleh : Rhestya (2009)

Sebelum melangkah lebih jauh untuk membaca tulisan gak ceto ini lebih jauh. Ada baiknya kita tanyakan dalam hati kita masing – masing.

Apa sih sangiran itu?

Jawabannya pasti bermacam – macam… ada yang bilang tahu tapi belum pernah kesana. Tahu tapi cuma tahu namanya aja, alias tidak tahu sangiran itu tempat seperti apa. Tahu, “itu kan museum terkenal waktu [pelajaran sejarah? Memangnya disini ada ya?”. Atau bahkan lebih parahnya sama sekali tidak tahu….. =.=”
Bagi kalian – kalian yang pengen tahu…. nih….aku bagi cerita buat kalian. :)

Negeri kita Indonesia adalah negeri yang kaya baik keindahan alam maupun budaya yang tidak ada duanya di dunia. Indonesia memiliki enam lokasi kawasan perlindungan yang tercatat dalam daftar situs warisan dunia (Cultural Heritage). Pernyataan ini bukan sekedar retorika belaka, namun kenyataan obyektif telah memperlihatkan bahwa wilayah dengan luas daratan belasan ribu kilo meter persegi dipenuhi oleh peninggalan budaya masa lampau. Semua masa yang terbagi dalam pembabakan sejarah pra-sejarah, klasik, Islam, kolonial, revolusi ada bukti tinggalannya. Bahkan tiga warisan dunia terdapat di sini yaitu: Candi Borobudur (1991), Kompleks candi Prambanan (1991) dan situs Prasejarah Sangiran (1996). Selanjutnya yang tercatat dalam daftar Situs Warisan Alam Dunia adalah Taman Nasional Ujung Kulon, Komodo, dan Lorentz. Berdasar World Heritage Convention, UNESCO mengelola daftar lokasi warisan dunia sejak tahun 1972. Sedangkan Indonesia telah meratifikasi konvensi pewarisan budaya dunia sudah dimulai sejak tahun 1989. Dimana penunjukan suatu lokasi sebagai situs warisan alam/budaya berdasarkan nilai – nilai keindahan alam yang unik/khas atau kepentingan ekologis dan nilai – nilai budaya yang menonjol. Sedang untuk bantuan pendanaan dan dukungan teknis pengelolaan disediakan oleh World Heritage Fund untuk menjaga keutuhan lokasi warisan dunia yang telah diakui.

Situs Sangiran adalah salah satu situs World Heritage paleontologis yang paling tertua di Indonesia dan cukup terkemuka di dunia. Keberadaan situs ini secara resmi telah diakui oleh UNESCO sebagai salah satu situs warisan budaya dunia sejak bulan Desember 1996 (Widianto 2000). Untuk wilayah geografisnya terletak di sebelah utara kota Solo dan berjarak sekitar 15 Km. Situs Sangiran yang mempunyai luas sekitar 59,2 Km² (SK Mendikbud 070/1997) ini secara administratip termasuk ke dalam dua wilayah pemerintahan; yaitu Kabupaten Sragen (Kecamatan Kalijambe, Kecamatan Gemolong dan Kecamatan Plupuh) dan Kabupaten Karanganyar (Kecamatan Gondangrejo), Provinsi Jawa Tengah (Widianto & Simanjuntak 1995) tepatnya terletak di desa Krikilan,Kecamatan Kalijambe ( + 40 km dari Sragen).
Secara geo-stratigrafis keistimewaan Sangiran, terletak pada garis alam zaman dahulu dimana pada masa purba daerah itu hanya merupakan hamparan lautan. Akibat dari proses geologi dan akibat bencana alam letusan Gunung Lawu, Gunung Merapi, dan Gunung Merbabu, Sangiran akhirnya berevolusi menjadi sebuah daratan seperti sekarang ini. Hal tersebut dibuktikan dengan lapisan-lapisan tanah pembentuk wilayah Sangiran yang sangat berbeda dengan lapisan tanah di tempat lain. Tiap-tiap lapisan tanah tersebut ditemukan fosil-fosil menurut jenis dan jamannya. Misalnya, Fosil Binatang Laut banyak diketemukan di Lapisan tanah paling bawah, yang dulu merupakan lautan. Kondisi deformasi geologis seperti ini kemudian semakin diperjelas oleh aliran Kali Brangkal, Cemoro dan Pohjajar (anak-anak cabang Bengawan Solo) yang mengikis situs ini mulai di bagian utara, tengah dan selatan. Akibat dari kikisan aliran sungai tersebut maka menyebabkan lapisan-lapisan tanah tersingkap secara alamiah dan memperlihatkan berbagai jejak fosil (manusia purba dan hewan vertebrata) (Widianto & Simanjuntak 1995).

Nama Sangiran sendiri diambil dari nama wilayah tempat ditemukannya pertama kali fosil Homo Erectus atau manusia purba tegak berdiri yang berasal sekitar satu juta tahun yang lalu. Untuk menampung semua benda purbakala, dibangunlah Museum Purbakala Sangiran. Kondisi sangiran awalnya tidak sebesar seperti sekarang. Museum sangiran saat ini juga telah melengkapi peralatan dan sarana prasarana, misal dengan di bangunnya mess, gedung seminar dan gedung perpustakaan yang saat ini terbilang masih seadanya. Koleksinya pun telah mencapai sekitar 13.980 koleksi fosil. Beberapa penduduk sekitar juga telah mulai memanfaatkan beberapa potensi yang dapat mereka ambil menjadi hasil pendapatan mereka sehari – hari, misal saja sebagai pedagang aksesoris batu dan pencari fosil.
Namun, permasalahan saat ini adalah semakin menipisnya jumlah fosil yang tersimpan disana, semakin membuktikan kurangnya partisipasi maupun perhatian khusus masyarakat sekitar mengenai pelestarian situs sangiran. Juga kasus pencurian dan jual beli fosl yang semakin sering terjadi dikalangan masyaraat Sangiran dengan wisatawan asing . Dalam penelitian Bambang Sulistyanto, Sebagian besar penduduk penemu fosil lebih suka menjual kepada para tengkulak daripada menyerahkannya ke pemerintah (Museum Sangiran). Penduduk yang dimaksud di sini adalah petani atau buruh tani setempat yang telah terpengaruh oleh hasutan para tengkulak dan pemburu fosil, sehingga mereka ikut mencari fosil. Adapun alasan pencari fosil ini lebih suka menyerahkan temuannya kepada tengkulak, karena tengkulak dalam memberikan imbalan jasa, lebih tinggi daripada pihak pemerintah. Di samping itu, pemberian imbalan jasa dari pemerintah memakan waktu lama sekali, bahkan ada yang sampai dua tahun, sebelum sampai di tangan penemuJika hal tersebut terus menerus terjadi maka situs Sangiran akan semakin benar – benar hancur. Padahal dalam kondisi seperti ini perhatian dari instansi terkait itu sangat penting, entah dari pemerintah maupun masyarakat sekitar agar Sangiran dapat dijadikan sebagai obyek wisata edukasi, laboratorium dan pusat penelitian, pusat pembelanjaan souvenir,dll. Seharusnya dalam pelestarian dan pengembangan kebudayaan pariwisata itu sendiri memiliki tujuan untuk menumbuhkan pemahaman dan perkembangan masyarakat terhadap kebudayaan dan pariwisata, meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dan menumbuhkan sikap kritis terhadap fakta sejarah dan serta memperkokoh ketahanan bangsa . Dengan pernyataan tersebut berarti dalam pembentukan kebijakan-kebijakan yang dibuat, keterkaitan pemerintah dengan masyarakat tidak dapat dilepaskan begitu saja. Pemerintah juga harus melihat situasi dan kondisi dari wilayahnya, agar dapat merubah taraf hidup masyarakat setempat.

Namun dalam faktanya, seringkali terdengar kritik, bahwa masyarakat di sekitar situs arkeologi cenderung hanya sebagai objek dalam pengelolaan warisan budaya. Mereka jarang dilibatkan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengambilan keputusan (Sulistyanto, 2009:78). Secara konkrit, pemikiran tersebut dapat dijelaskan, bahwa masyarakat di sekitar situs tidak dapat diabaikan dalam segala kegiatan yang menyangkut keberadaan dan keberlangsungan warisan budaya disekitarnya. Masyarakat pada hakekatnya merupakan pemilik sah atas warisan budaya. Sementara itu, mereka sebenarnya memiliki kearifan atau potensi sosial, budaya, politik, maupun ekonomi yang dapat dikembangkan untuk pelestarian warisan budaya. Potensi tersebut jika dikelola dengan benar bukan tidak mungkin akan mampu menumbuhkan ketergantungan yang saling menguntungkan (simbiosis mutualistis) antara situs dan masyarakat di sekitarnya. Ketergantungan tersebut diharapkan mampu menunjukkan korelasi positif atau hubungan timbal balik yang saling menguntungkan di antara kedua belah pihak, yaitu pihak pemerintah selaku pengelola yang bertanggung jawab terhadap pelestarian situs dan pihak masyarakat lokal, selaku pemilik warisan budaya.
Pihak pertama, masyarakat akan diuntungkan dengan adanya pemanfaatan situs yang mengarah pada kepentingan ekonomis, sebagai objek pariwisata misalnya. Keterlibatan mereka dalam aktivitas kepariwisataan secara langsung, akan dapat mendatangkan pendapatan tambahan atau pendapatan utama yang mampu meningkatkan perekonomian mereka. Pihak kedua, pemerintah selaku pengelola yang memiliki tanggung jawab keberadaan warisan budaya, menjadi lebih ringan bebannya dengan tumbuhnya pemberdayaan yang mengarah pada peningkatan rasa kepemilikan masyarakat terhadap warisan budaya di sekitarnya. Dampak positif tumbuhnya rasa memiliki terhadap warisan budaya seperti itu, adalah munculnya kesadaran untuk “melindungi” dan “menjaga” kelestarian situs. Apabila masyarakat sudah dapat bertindak sebagai “pelindung” dan “penjaga” situs yang muncul dari kesadaran sendiri, maka hal tersebut merupakan bentuk upaya perlindungan dan pelestarian yang paling efektif dan efisien (Prasodjo 2004:3).
Untuk menciptakan hubungan yang saling menguntungkan, maka perlu dilakukan upaya ke arah terbentuknya kondisi yang kondusif untuk kedua belah pihak. Menciptakan situasi yang saling menguntungkan untuk kedua belah pihak tersebut, tidaklah mudah karena arkeologi tidak dapat bekerja sendiri. Apalagi menjalin kemitraan dengan masyarakat yang berada di sekitar situs yang rawan konflik. Arkeologi membutuhkan dukungan dari stakeholders, paling tidak dukungan dari pemerintah daerah setempat. Untuk memperoleh dukungan tersebut, langkah awal yang diperlukan adalah kesadaran di kalangan arkeologi sendiri, bahwa masyarakat di sekitar situs memiliki peran yang sangat penting untuk pelestarian benda cagar budaya. Masyarakat di sekitar situs tidak dapat diabaikan dari segala kegiatan pengelolaan warisan budaya, mulai dari penyusunan program, pelaksanaan, dan bahkan evaluasi. Apalagi dengan minimnya pengetahuan masyarakat khususnya daerah Solo Raya tentang adanya Museum Sangiran sebagai World Heritage. Padahal dalam kondisi seperti ini perhatian dari instansi terkait itu sangat penting, entah dari pemerintah maupun masyarakat sekitar agar Sangiran dapat dijadikan sebagai obyek wisata Jateng, laboratorium dan pusat penelitian, pusat pembelanjaan souvenir.
Masyarakat merupakan salah satu pilar utama dalam pengembangan pariwisata, karena pada dasarnya pilar pariwisata itu terdiri dari pertama pemerintah, kedua swasta dan ketiga masyarakat, yang sering disebut tiga pilar utama pariwisata. Misalnya, setelah pemerintah mengeluarkan kebijakan mengenai pengembangan pariwisata yang diiringi dengan regulasinya tentunya. Kemudian pihak swasta yang secara professional menyediakan jasa pelayanan bagi pengembangan pariwisata tersebut, maka tugas masyarakat adalah selain senantiasa membangkitkan kesadaran tentang pentingnya pariwisata juga menumbuh-kembangkan kreatifitas yang melahirkan berbagai kreasi segar yang mengundang perhatian untuk kemudian menjadi daya pikat pariwisata. Sehingga peran masyarakat dan juga kita sebagai mahasiswa sangat penting dalam menguatkan potensi Situs Sangiran sebagai World Heritage.

Nah sekarang kalian sudah tahu kan apa itu sebenarnya Sangiran dan berbagai permasalahan yang ada. Hmm… sayang ya kalau memang situs ini sekarang hanya sebagai pajangan dengan sandang World Heritage tanpa ada kunjungan. Apalagi semakin menipisnya fosil – fosilnya ini karena terlalu lama Sangiran disingkirkan dari pikiran – pikiran masyarakat Indonesia. Keep Spirit!!!!….. Gogogo Sangiran!!!!!